Kepada Yang Terkasih
Ada orang-orang yang menghabiskan hidupnya untuk mencari tempat pulang.
Ada pula yang terus berjalan karena tidak pernah benar-benar merasa memiliki rumah.
Sedangkan aku, pernah mengira rumah adalah punggung seseorang di atas sepeda motor yang membawaku menembus hujan, melewati jalan-jalan panjang, menuju tempat-tempat yang namanya kini hanya berani kusebut dalam ingatan.
Apa kabarmu hari ini?
Sudahkah kau berolahraga?
Masihkah kau memanjat sesuatu yang lebih tinggi daripada keraguanmu sendiri?
Aku menulis ini bukan untuk memanggilmu kembali. Bukan pula untuk mengetuk pintu yang sudah lama kita tutup dari sisi masing-masing. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang pernah menunjukkan kepadaku bahwa dunia jauh lebih luas daripada kamar, ruang kuliah, dan jalan pulang yang itu-itu saja.
Terima kasih untuk perjalanan-perjalanan tanpa rencana. Untuk hujan yang kita terobos seolah tubuh kita tak mungkin sakit. Untuk tebing, laut, jalanan gelap, dan langit malam yang pernah kita pandangi sambil merasa bahwa hidup akan selalu semudah hari itu.
Terima kasih karena pernah membawaku ke tempat tinggi hanya karena aku berkata ingin melihat bintang.
Malam itu, lampu-lampu kota berpendar jauh di bawah kaki kita. Udara menggigit, lalu kau memberikan penghangatmu kepadaku dan berpura-pura tidak kedinginan. Kita membuat sesuatu dari kertas, menerbangkannya ke udara, lalu tertawa ketika benda kecil itu jatuh sebelum sempat pergi jauh.
Barangkali begitulah kita sebenarnya: dua anak muda yang ingin terbang, tetapi belum mengerti ke mana harus mendarat.
Terima kasih karena pernah menyatakan cinta dengan sajak yang sangat kusukai. Pada tengah malam itu, aku membaca kata-katamu dengan dada berdebar dan tangan dingin. Untuk pertama kalinya, aku merasa seseorang telah mempelajari bahasa rahasiaku, lalu menggunakannya untuk mengetuk hati.
Bersamamu, aku pernah merasa dicintai dengan penuh.
Setiap kali aku datang menemuimu, kau selalu mengantarkanku pulang hingga ke tempat keberangkatan terakhir. Setelah memastikan aku menaiki kendaraan yang benar, kau membalikkan badan dan menempuh perjalanan yang sama panjangnya untuk kembali.
Aku sering memperhatikan punggungmu menjauh.
Saat itu aku belum tahu bahwa suatu hari, aku akan kembali melihat punggung yang sama—bukan ketika kau pulang ke kotamu, melainkan ketika kau meninggalkan hidupku.
Kita pernah begitu berani menghadapi jarak. Seolah beberapa jam perjalanan hanyalah perkara kecil bagi dua orang yang sedang jatuh cinta. Tidak ada hujan yang terlalu deras, jalan yang terlalu panjang, ataupun uang yang terlalu sedikit. Selama bisa bertemu, semua kesulitan terasa seperti bagian dari petualangan.
Namun ternyata, keberanian menempuh perjalanan tidak selalu berarti keberanian menetapkan tujuan.
Kita saling menyayangi, tetapi juga saling melukai. Kita berpisah, kembali, kemudian berpisah lagi. Kita merindukan satu sama lain dengan cara yang sering berubah menjadi pertengkaran. Pernah pula kau pergi begitu dekat dengan hari kelahiranku hingga selama beberapa waktu aku membenci tanggal itu.
Aneh, ya?
Orang yang pernah membuatku merasa begitu hidup ternyata juga mampu membuat sebagian hariku terasa mati.
Ketika kita mencoba sekali lagi, aku sungguh mengira perjalanan itu akhirnya memiliki arah. Aku tidak lagi hanya menginginkan pertemuan-pertemuan singkat dan perpisahan di terminal. Aku menginginkan sebuah tempat yang bisa kita sebut rumah. Aku meminta kepastian, sementara kau masih berdiri di persimpangan.
Pada akhirnya, aku meminta jawaban.
Dan jawabanmu adalah kepergian.
Bertahun-tahun aku diam-diam bertanya: mengapa bukan aku yang kaupilih untuk menemani sisa perjalananmu? Mengapa setelah semua kota, hujan, tebing, pantai, dan malam yang kita lewati, kita tetap tidak sampai ke mana-mana?
Sekarang aku mulai mengerti.
Mungkin tidak semua perjalanan diciptakan untuk membawa seseorang menuju rumah. Beberapa perjalanan hanya hadir untuk memperkenalkan kita kepada dunia—dan kepada diri sendiri.
Kau adalah bagian dari masa ketika aku berani pergi tanpa banyak bertanya. Ketika tubuhku kuat menantang tebing dan hatiku belum takut jatuh. Ketika kebahagiaan bisa ditemukan dalam sebungkus makanan sederhana, pakaian yang basah oleh hujan, dan punggung seseorang yang kupeluk sepanjang perjalanan.
Mungkin selama ini bukan hanya dirimu yang kurindukan.
Aku merindukan diriku yang hidup pada masa itu.
Diriku yang bebas.
Diriku yang berani.
Diriku yang percaya bahwa dunia terlalu luas untuk hanya dipandangi dari balik jendela.
Setelah sekian lama, akhirnya aku berani mengakui bahwa aku pernah sangat mencintaimu. Kisah kita nyata. Kebahagiaan itu nyata. Begitu pula luka-lukanya.
Aku tidak perlu menghapus salah satunya agar dapat melanjutkan hidup.
Jika suatu hari semesta membuat jalan kita bersilangan kembali, semoga aku mampu menyapamu tanpa membawa harapan apa pun. Semoga kita dapat bertukar kabar seperti dua kawan lama yang pernah melewati perjalanan jauh bersama, lalu meneruskan langkah ke arah masing-masing.
Namun jika kita tidak pernah bertemu lagi, itu pun tidak apa-apa.
Aku tidak lagi menunggu.
Biarlah kota tempatmu tinggal tetap menjadi sebuah titik jauh di peta. Biarlah jalan-jalan yang pernah kita lalui perlahan berubah, sementara kenangannya menetap dalam bentuk yang tidak lagi menyakitkan.
Terima kasih telah menjadi rumah bagi hatiku pada masa muda.
Aku pernah begitu bahagia bersamamu. Akan tetapi, kebahagiaan yang pernah ada tidak selalu harus diulang agar tetap berarti.
Kini aku ingin pulang kepada diriku sendiri—mengumpulkan bagian-bagian yang dahulu tertinggal di jalan, di bawah hujan, di tepi laut, di atas tebing, dan di terminal tempat aku terakhir kali melihat punggungmu menjauh.
Berbahagialah dengan kehidupan yang telah kaupilih.
Aku juga akan belajar mencintai kehidupan yang ada di hadapanku.
Dan kali ini, ketika kau kembali membalikkan badan dan pergi, aku tidak akan berdiri menunggumu menoleh.
Selamat jalan, Jeleg.
Namamu akan tetap kusamarkan, tetapi aku tahu kau pernah ada.
—Mars
Komentar
Posting Komentar